Rp20 Juta ADD Raib, Kades Lambanau dan Bendaharanya Saling Tuding

oleh -341 views
Kepala Desa Lambanau, Hery Efendy yang mengancam wartawan dan berkata kotor. Foto : Ist.

PARIMO, Pospena.com – Senilai Rp20 Juta Alokasi Dana Desa (ADD) Lambanau Kecamatan Ongka Malino Kabupaten Parigi Moutong raib entah kemana.

Kepala Desa (Kades) Herry Efendi dan bendaharanya yang diketahui bernama Wazna saling tuding terkait hilangnya uang senilai Rp20 Juta dari ADD Lambanau mencapai Rp249 Juta.

Kepada media ini, Wazna membantah tudingan sang Kades yang menyebutkan dirinya penyebab raibnya uang senilai Rp20 Juta tersebut.

Ia menjelaskan, pencairan ADD senilai Rp249 Juta di Bank BNI Parigi dilakukannya bersama Kades.

Setelah menerima uangnya kata dia, sang Kades langsung berpamitan untuk membawa pergi uang tersebut ke salah satu penginapan tempatnya menginap. “

Ia mengaku, selama menjabat sebagai bendahara Desa Lambanau, dirinya difungsikan pasa saat melakukan pencairan dana saja.

“Saat saya tiba di Bank BNI  menggunakan taksi rental, saya hanya menandatangani berkas pencairan saja. Setelah cair, uangnya langsung dipegang oleh Kades. Bahkan, saat itu saya berencana pulang menggunakan tumpangan Kades Persatuan Sejati. Setelah beberapa jam kemudian, Sekdes Lambanau datang menjemput saya dan mengaku diperintahkan oleh Kades,” jelasnya.

Lanjut Wazna mengatakan, ketika tiba di penginapan, Kades menyerahkan uang yang telah dihitungnya senilai Rp100 Juta kepada bendahara, yang diperuntukan bagi pembayaran honor para Lansia, gaji pegawai syarah, pengurus PAUD, pengurus Balita dan Kader Posyandu.

Namun, ia mengaku menolak perintah Kades yang ingin menyerahkan uang ADD senilai Rp100 Juta tersebut dengan alasan mau menerimanya ketika tiba di Desa Lambanau dan langsung membagikannya kepada penerima.

Hanya saja, Kades tetap memaksa dengan alasan, bahwa ia berencana pergi ke Kota Palu untuk membeli obat-obatan, mesin paras rumput dan pakaian olahraga.

Terkait hilangnya uang senilai Rp20 Juta tersebut, Wazna mengaku kurang yakin, bahkan dirinya diminta untuk mengembalikan.

Sehingga, ia meminta Kades untuk menghitung kembali total pembelanjaannya di Kota Palu dan peruntukan lainnya.

Hasilnya, pembelian obat-obatan senilai Rp75 Juta, mesin para rumput Rp7 Juta, pembangunan tiga unit pos kamling Rp15 Juta, kostum sepak bola Rp10 Juta, gaji Kades yang sudah diambilnya beserta gaji adiknya mencapai Rp3 Juta serta sisa uang yang dipegang oleh Kades senilai Rp169 Juta. “Jika ditotalkan keseluruhan, uang tersebut lebih dari Rp249 Juta. Anehnya, uang ADD senilai Rp249 Juta tersebut menurut Kades kurang Rp20 Juta dan saya diminta untuk menggantinya. Sebagai bendahara desa, saya difungsikan hanya pada saat melakukan pencairan dana saja. Ketika dana desa cair, buku rekeningpun harus dipegang oleh kades.

Dikonfirimasi terkait hal itu, Herri Efendi mengatakan, bahwa uang yang diserahkan kepada bendahara usai melakukan pencairan senilai Rp100 Juta.

Namun, setelah dicek kembali, uang tersebut hanya mencapai Rp70.400 ribu dan terdapat kekurangan senilai Rp20 Juta lebih.

“Jelasnya, uang yang dihilangkan bendahara, sebagiannya sudah digantikannya baru senilai Rp10 Juta pada saat pembayaran honor gaji aparat. Bukan hanya sekali saja bendahara menghilangkan uang, tetapi sudah berkali-kali,” kata Herri Efendi yang dihubungi memalui telepon genggamnya belum lama ini.

TOMMY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *