Bendera AMPIBI Berkibar, Mahasiswa Dan Masyarakat Gelar Aksi Prakondisi Turunkan Bupati Parimo Samsurizal Tombolotutu

oleh -301 views
Antusias ibu-ibu dalam aksi tandatangan dukungan tuntut pemberhentian Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu. Rabu 15/07 pagi tadi.

PARIMO, Pospena.com- Amburadulnya kepemimpinan Samsurizal Tombolotutu sebagai Bupati Parigi Moutong (Parimo) diperiode kedua ini, membuat tokoh hadat, masyarakat dan mahasiswa terpaksa harus mengibarkan bendera Aliansi Masyarakat Peduli Tuntut Pemberhentian Bupati Parigi Moutong (AMPIBI) Rabu 15/07/2020 pagi tadi.

kegiatan Aksi Tanda Tangan Petisi Masyarakat untuk menuntut Pemberhentian Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu dengan tegas yakni menyikapi persoalan yang terjadi di daerah ini, mulai dari buruknya kepemimpinan yang diduga telah menyalahgunakan kekuasaan, melanggar norma etika serta peraturan perundang-undangan lainnya sehingga harus melakukan petisi untuk aksi selanjutnya.

Long mars sekaligus orasi ajakan permintaan dukungan di dalam kota parigi ibu kota parigi moutong. Foto TM

Zulfikar Zamardi sekertaris AMPIBI, yang ditemui media pada saat aksi mengaku, ada tujuh poin tuntutan yang telah disampaikan dalam orasi ajakan, salah satunya adalah dana Covid-19 senilai 26 miliar rupiah yang tidak pernah diterima oleh masyarakat, sedangkan yang lebih fatal menurutnya adalah putusan pengadilan yang sudah membuat malu daerah ini yaitu pengembalian dana kampanye senilai 4,9 miliar rupiah pada pilkada tahun 2018.

“dari tujuh poin tuntutan kami, semuanya dilengkapi dengan data, dan jelas bupati samsurizal telah memanfaatkan tenaga Honorer dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk kepentingan pribadinya di pantai Mosing desa sinei kecamatan Tinombo Selatan,”ungkapnya.

Lanjut dia, setahun tidak berkantor di pusat kota, dan hanya mengurus tempat wisata yang menjadi istana pribadi samsurizal, sehingga masyarakat bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.

“dia sebagai pemegang kebijakan dan tempat pengaduan masyarakat seharusnya hadir di pusat kota, kantor yang dibagun dengan megah namun tidak ditempati untuk berkantor sehingga kami mempertanyakan apa fungsi Samsurizal sebagai bupati Parigi Moutong,”Ujar Zulfikar.

Sementara itu perwakilan Mahasiswa Parigi Moutong Fahrur Razy sangat menyayangkan sikap bupati parigi moutong Samsurizal Tombolotutu yang meninggalkan istana megah (Rumah Jabatan) yang dibangun oleh rakyat melalui uang pajak, kata dia hal-hal yang penting di daerah ini dianggapnya sebagai hal yang sepeleh.

“jika memang bupati sudah tidak mau tinggal di rumah jabatan, alangkah baiknya dijadikan kamp atau rumah tempat pengungsian saudara kita yang tertimpa bencana banjir bandang di desa boyantongo dan olaya,”tegasnya.

Dia menambahkan, dinasti pemerintahan kali ini sudah tidak bisa di tolerir, pasalnya tidak sedikit mereka yang mengendalikan roda  pemerintahan adalah saudaranya sendiri. Tutupnya.

TOMMY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *