Petani Balinggi Merugi, Tangggul Sungai Tapiao Bobol, 150 hektar sawah Tertimbun Pasir.

oleh -2.362 views
Ketua DPRD Kabupaten Parimo I Ketut Mardika mengunjungi lokasi persawahan milik warga Besa Balinggi Jati yang tertimbun pasir akibat jebolnya tanggul sungai Tapiao. Foto : Istimewa.

PARIMO,Pospena.com- Normalisasi sungai yang di kerjakan oleh Balai Wilayah Sungai ( BWS ) Sulawesi III, Provinsi sulawesi tengah di duga menjadi penyebab jebolnya tanggul sungai tapiao yang ada di dusun cakra sari Desa Balinggi Jati, Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong ( Parimo ) selasa ( 04/ 06 ) kemarin. Sekitar 150 hektar sawah milik warga desa balinggi jati tertimbun pasir akibat jebolnya tanggul tersebut.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Parimo,  I Ketut Mardika yang di konfirmasi media ini via handphone mengatakan, berdasarkan laporan petani saat dia mengunjungi lokasi, sungai tapiao yang beberapa waktu lalu dilakukan normalisasi sungai oleh Balai Wilayah Sungai ( BWS ) Sulawesi III, namun pekerjaan tersebut terlihat berantakan, pasalnya tanggul itu memang sudah jebol, tetapi pihak balai sungai melalui pekerjanya sama sekali tidak memperdulikan dan mengabaikannya. Sehingga 150 hektar sawah sudah di tanami padi yang berumur sekitar tingga minggu rata tertimbun pasir dan sebagian lainnya terendam air sungai.

150 hektar sawah tertimbun, petani merugi akibat padi yang berumur tiga minggu rata tertimbun pasir.

“sungai tersebut pernah di lakukan normalisasi, tetapi kurang maksimal pekerjaannya oleh balai sungai, sehingga mengikis badan tanggul sampai jebol namun tidak diperbaiki menurut laporan masyarakat,”ucap Ketua DPRD.

Normalisasi dalam arti mengembalikan bentuk sungai sesuai dengan peruntukan serta bentuk awalnya kata ketut mardika. Normalisasi mestinya mengikuti bentuk sungai, bukan menjadikan sebagai sungai yang lurus dan menggerus pinggiran sungai sampai badan tanggul itu menipis, pada saat musim penghujan secara otomatis sedikit demi sedikit pasir tanggul itu tergerus oleh derasnya air.

“sungai tapiao, salah satu pembuangan dari bendungan irigasi sausu kanan, yang melewati irigasi dibeberapa desa seperti, catur sari, braban, balinggi dan suli, kalau musim hujan otomatis air yang tertampung di beberapa desa itu mengalir ke sungai tapiao, sehingga tanggul itu jebol sepanjang 25 meter,”tuturnya.

Lanjut ketua DPRD menyarankan kepada petani, untuk mengantisipasi tanggul tersebut di pasang pancung yaitu karung yang diisi pasir untuk mengurangi debit air yang masuk kelokasi persawahan.

“kalau dikerjakan, langsung melibatkan alat besar seprti excavator jelas pasirnya langsung hanyut kelokasi sawah karena airnya sangat deras,”tutupnya.

TOMMY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *