Disdikbud Parimo Lounching Inovasi Proyek Perubahan Sigaraya

oleh -305 views

PARIMO, Pospena.com- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), secara resmi melaunching inovasi proyek perubahan, yang diberi nama Sistim Informasi Geografi Cagar Budaya (Sigaraya).

“Aplikasi sudah bisa diakses melalui akun media sosial seperti facebook, bisa juga dilihat diaplikasi website, dan untuk selanjutnya akan dimasukan dalam Sistim Informasi Geografi, agar ketika orang masuk di Parimo melalui Google Map, data-data cagar budaya atau benda pusaka ini bisa diakses siapapun,” ujar Kabid Kebudayaan Disdibud Parigi Moutong, Eny Susilowati kepada sejumlah Media, saat ditemui di kegiatan Mogombo Budaya, Selasa (15/5).

Dia mengatakan, Sigaraya tersebut selain sebagai upaya perlindungan cagar budaya di Parmout, juga dapat membackup pariwisata budaya serta bisa dijadikan media informasi dan edukasi khusunya masyarakat di Parimo.

Sebab, Sigaraya dapat diakses dan bisa dilakukan penginputan secara publik, serta informasi didalamnya bisa diambil oleh siapa saja yang ingin mendapatkan informasi tentang benda-benda bersejarah yang ada di Parimo.

Aplikasi tersebut kata dia, merupakan perpanjangan tangan dari program lomba yang digagas Bidangnya pada hari ulang tahun Kabupaten Parimo bulan April lalu.

“Foto-fota yang kami masukan dalam Sigaraya merupakan hasil dari peserta lomba kemarin, baik foto juara maupun tidak, namun itu semua yang menjadi data bagi kami,” tuturnya

Dia menambahkan, sejak dibuka aplikasi Sigaraya melalui akun facebook, setiap orang yang memiliki benda pusaka atau yang mengatahui lokasi-lokasi yang termasuk dalam tempat cagar budaya bisa meng-uploadnya langsung ke akun facabook memiliki anggota sebanyak 800 akun.

Pendataan situs sejarah dan kebudayaan yang dilakukan oleh Disdikbud ini, dengan menggandeng sejumlah komunitas pemuda seperti Kelompok Pecinta Alam (KPA), komunitas fotografi dan komunitas lainnya.

Pasalnya, dengan melibatkan beberapa komunitas pemuda tersebut, pihaknya sangat terbantu, khususnya mendata situs sejarah yang belum memiliki data maupun dokumentasi. Begitu pula dengan komunitas fotografi yang sering melakukan pengambilan dokumentasi terhadap situs-situs sejarah maupun kebudayaan. OZHAN

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *