DPUPRP Parmout Pastikan Status Lokasi Tambang Emas Air Panas

oleh -298 views
Kadis DPUPRP Parimo, Zulfinasran

PARIMO, Pospena.com-  Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP) yang telah mengambil titik kordinat pada lokasi tambang emas di Desa Air Panas Kecamatan Parigi Barat, akan memastikan lahan-lahan tersebut di dalam kawasan hutan lindung atau tidak.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas PUPRP Parimo, Zulfinasran, melalui Kepala Bidang Tata Ruang DPUPRP Parimo, Rifai yang ditemui Pospena.com diruang kerja, Kamis (12/4).

Dia mengatakan, berdasarkan sepengetahuannya beberapa lokasi di Kecamatan Parigi Barat, ada kawasan hutan lindung dan produksi. Namun, belum bisa memastikan apakah lokasi tambang emas Desa Air Panas dan Kayuboko termasuk didalamnya. Sebab, harus mengecek kembali peta untuk memastikannya.

Menurut dia, informasi mengenai lokasi-lokasi tersebut, lokasi-lokasi yang tidak diketahui, Air Terjun yang masuk dalam kawasan hutan lindung dan produksi dapat dipastikan dilewati oleh badan-badan penduduk, harus dibuang dan dapat dilakukan oleh departemen terkait.

“Kalau itu masuk kawasan hutan lindung, memang berat ya. Tidak bisa mengeluarkan izinnya untuk kegiatan tambang emas, ”ungkapnya.

Bahayanya, jika memang benar-benar lokasi yang masuk dalam dua kawasan tersebut, dan sudah dalam kondisi yang parah seperti saat ini, akan sangat besar yang diberikan.

Namun, jika lokasi itu bukan wilayah hutan atau Areal Penggunaan Lainnya (APL), memungkinkan untuk melakukan kegiatan tambang emas, dapat dikeluarkan. Hanya saja, hal itu harus kembali diputuskan oleh Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD), untuk mengeluarkan rekomendasinya.

“Rapat TKPRD ini akan memutuskan dengan izinnya, tepatnya memang itu kawasan perkebunan. Dari rapat itu akan dikeluarkan rekomendasi, seperti apa kemlu, ”jelasnya.

Diberikan, kegiatan tambang di Desa Air Panas Kecamatan Parigi Barat sangat memprihatinkan, kurang lebih tiga titik galian dengan kedalaman 10-14 meter pada lahan seluas kurang lebih 10 hektar.

Pengalih fungsian lahan perkembunan menjadi ranjau tersebut dikhawatirkan akan mencemari udara dan kelurahan lingkunga. Apalagi, tidak bisa jauh dari pemukiman penduduk desa lokal. OZHAN

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *